Kamis, 08 Maret 2012

DASAR – DASAR SMELTER TIMAH (PENGOLAHAN TIMAH)

DASAR – DASAR SMELTER TIMAH (PENGOLAHAN TIMAH)


Pendahuluan
Timah adalah sebuah unsur kimia dalam tabel periodik yang memiliki simbol Sn (stannum) dengan nomor ataom 50. Unsur ini merupakan logam miskin keperakan, dapat ditempa ("malleable"), tidak mudah teroksidasi dalam udara sehingga tahan karat, ditemukan dalam banyak paduan , dan digunakan untuk melapisi logam lainnya untuk mencegah karat. Timah diperoleh terutama dari cassiterite (SnO2) yang terbentuk sebagai oksida yang kemudian dilebur untuk membentuk Sn murni.

Proses peleburan
Untuk memisahkan timah dari pengotor – pengotornya maka bijih timah harus dilebur dan ditambahkan senyawa – senyawa lain seperti antrasite, dan limestone. Peleburan dilakukan didalam burning chamber (tanur) hingga suhu 1350 0C selama 8-12 jam sehingga dapat memisahkan timah dengan pengotor – pengotornya seperti :
    • Pb
    • As
    • Sb
    • Cu
    • Fe
    • Ni
Proses peleburan timah menggunakan reduktor gas CO, gas ini diperoleh dari hasil pembakaran C (fixed carbon) dalam antrasit dengan reaksi sebagai berikut:
                     C(s) + O2(g)  ® CO2(g)                                                                    (1)
                     CO2(g) +  C(s)  ®    2 CO(g)                                            (2)             


 
                     2C(s)  + O2(g)                 2 CO(g)                                         (3)
Pada temperatur operasi 1400°C gas CO lebih stabil daripada gas CO2 sehingga reaksi berjalan ke kanan dan diperoleh gas CO.
Reaksi reduksi bijih timah menjadi timah bebas adalah sebagai berikut:

SnO2(s)  +  CO(g)  ®  SnO(s)  + CO2(g) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .(4)
SnO(s)  +   CO (g) ®  Sn(l) + CO2(g) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .(5)

Dari reaksi tersebut, masih terdapat SnO2 yang tidak tereduksi oleh C(s)  yang lalu akan  bereaksi dengan Sn(l) dan silika (SiO2) untuk menghasilkan  terak (slag) stannous silicate.

Reaksi yang terjadi adalah:

SnO2(s) +  Sn(l) +  2 SiO2(l)  ®  2 SnOSiO2(sl) . . . . . . . . . . . . . . (6)

Untuk menghasilkan Sn(l), terak ini dapat direduksi oleh C(s), reaksinya adalah sebagai berikut:

2SnOSiO2(sl) +  2 C(s)  ® 2 Sn(l)  +  2 SiO2(sl)  +  2 CO2(g) . . . . (7)

Pada temperatur 1150oC – 1250oC oksida - oksida pengotor yang terdapat di dalam bijih timah sebagian tereduksi menjadi FeO. Reaksi sebagai berikut:

3FeO(s) +  CO2(g)  ®  Fe3O4(s) +  CO(g) . . . . . . . . . . . . . . . . . . .(8)
Fe3O4(s) +  CO(g)  ®  3FeO(s) +  CO2(g) . . . . . . . . . . . . . . . . . .(9)

Lalu adanya penambahan fluks akan mendesak FeO dan SnO dari dalam slag karena fluks/batu kapur akan terdekomposisi menjadi CaO dan CO2, dengan reaksi:

CaCO3  « CaO  + CO2 . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . (10)

Yang dimulai pada temperatur 600°C dan akan sempurna pada temperatur 900-1000°C. Kemudian, akan bereaksi mendesak FeO dan SnO dari slag 1 dengan reaksi sebagai berikut :

SnO.SiO2 (slag)   +  CaO (s) ® SnO  (slag)  +  CaO.SiO2 (slag) . . . . . . . (11)
SnO (slag)  +  CO  (g)  ® Sn (l)  +  CO2 (g) . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . . .(12)
2FeO.SiO2 (slag)  +  CaO  (s)  ®  FeO  (slag)   +  CaO.SiO2 (slag) . . . . .(13)
FeO  (slag)   +   CO  (g)  ®  Fe  (l)   +   CO2 (g) . . . . . . . . . . . . . . . . . . (14)

Tapping
Tapping adalah proses mengeluarkan timah cair dan slag dalam tanur, setelah dilakukan tapping maka akan dipisahkan antara slag dan logam timah cair, sehingga logam timah cair yang dipisahkan dapat dicetak.

Pencetakan
            Proses pencetakan dilakukan setelah mengeluarkan logam timah cair dari dalam tanur, pencetakan dilakukan dengan menggunakan cetakan yang sudah ada. Produk akhir disebut ingot.

Refining (pemurnian)
            Pyrorefining
            Pyrorefining adalah metode pemurnian dengan menggunakan temperature tertentu guna mendapatkan produk yang memiliki impurities/pengotor seminimal mungkin. Pada industri pemurnian timah, produk yang didapat dari pyrorefining berkisar antara 99,85 – 99,95 %. Proses ini dilakukan dengan menambahkan zat aditif yang akan berfungsi sebagai pengikat impurities di dalam timah cair. Tahapan proses ini meliputi:
a.                    Pengurangan kadar As, dilakukan dengan cara menambahkan alumunium sehingga akan terbentuk senyawa AsAl yang mengapung di permukaan timah cair, karena ditiupkan udara ke dalam timah cair (proses polling).
b.                 Pengurangan kadar Cu dan Ni, dilakukan dengan menambahkan sulfur ke dalam timah cair sehingga akan terbentuk endapan CuS dan NiS. Analisa akhir juga tetap dilakukan untuk pengecekan, jika ternyata terdapat kandungan impurities yang melebihi atau di ambang batas standar yang ditetapkan maka dilakukan refining ulang sesuai dengan kandungan impurities yang ingin dikurangi.
c.                Pengurangan kadar Fe, dilakukan dengan cara mengubah temperatur ketel menjadi 300 - 400°C sehingga akan terbentuk endapan FeSn di dasar ketel. Selain itu ditambahkan serbuk gergaji yang akan berfungsi sebagai buffer interface untuk memisahkan endapan FeSn dengan Sn cair.  

Aplikasi Timah
            Timah mudah berikatan dengan Fe, dan banyak digunakan sebagai pelapis untuk melindungi logam lain dari korosi, Fe yang sudah dilapisi oleh Sn banyak digunakan untuk melapisi makanan.
Kegunaan lain:
·                       Paduan logam ini dengan logam lain menghasilkan perunggu, die casting alloy, Phospor bronze, soft solder, etc
·                       Membentuk garam stannous chloride, yang berfungsi sebagai reduktor, dapat memberikan sifat konduktor apabila garam timah ini dilapisi pada kaca. Pelapisan ini digunakan pada panel lampu dalam produksi frost-free windshieslds
·                       Digunakan sebagai solder untuk penyambungan pipa/sirkuit elektrik, pembuatan kaca.

-mdskribo-
08-03-12

-

Penambangan Timah Inkonvensional Bangka Belitung


Ada dua tipe penambangan timah. Pertama penambangan lepas pantai yang menggunakan kapal isap dan kapal keruk. Penambangan ini dibutuhkan investasi yangbesar untuk pembelian kapal dan biaya operasionalnya. Yang kedua adalah penambangan darat. Penambangan timah darat di pulau Bangka Belitung sudah dilakukan semenjak tahun 1700an pada saat imigran dari cina datang ke Pulau ini. Lalu setelah Belanda mengetahui potensi yang luar biasa, diambil alih dan dikuasai oleh Belanda. Setelah Indonesia merdeka, penambangan darat hanya dikuasai PN Timah (sekarang PT Timah), namun setelah jaman reformasi, kegiatan penambangan ini dibebaskan untuk umum tentunya dengan surat kuasa penambangan. Namun, tetap saja masih banyak penambangan liar yang dilakukan oleh rakyat kecil. Penambangan kecil yang biasa dilakukan 2-10 orang ini biasa disebut Tambang inkonvensional (TI).
Tambang inkonvensioanl (TI) ini biasanya dilakukan didaerah bekas lokasi tambang besar milik PT Timah yang telah ditutup ataupun ditinggalkan. Oleh karena nilai keekonomisan yang tidak lagi menguntungkan apabila dilakukan penambangan secara besar maka lokasi tambang tersebut ditutup atau ditinggalkan. Tetapi hal ini ternyata masih menguntungkan bagi para rakyat kecil yang menyulapnya menjadi lokasi TI. TI ini cukup menjamur di provinsi Bangka Belitung, namun sayangnya banyak dari TI tidak mempuntai surat kuasa penambangan dan hanya malah merusak lingkungan tanpa member kontribusi ke pemerintah daerah.
Proses dalam penambangan timah dengan TI cukup sederhana. Prosesnya hanya menggunakan 2 mesin pompa dan selang belasan meter serta tempat penampung timah. Proses dimulai dengan menyedot air dan menyemprotkan ke lokasi penambangan tersebut. Lokasi tambang yang awalnya seperti gundukan pasir perlahan menjadi lumpur yang sangat encer. Kemudian kolam lumpur atau yang biasa disebut camuy tersebut kemudian disedot menggunakan pompa kedua menuju tempat penampungan timah yang oleh warga disebut sakan. Setelah proses dijalankan seharian, timah akan tertampung ke sakan sedangkan pasir karena berat jenisnya ringan akan terbawa air. Pada sore hari, lalu pasir dibersihkan sehingga didapatkan timah murni.
Setiap harinya penambang bisa mendapat belasan kilo per hari. Bila melihat harga timah saat ini yang mencapai seratus ribu rupiah, hal ini tentu cukup menggiurkan. Oleh karena itu banyak pendatang baik dari sumatera maupun jawa yang datang ke provinsi Bangka Belitung untuk menjadi penambang timah.
Berikut adalah foto-foto dari tambang-tambang inkonvensional yang marak di Bangka Belitung.
















Foto-foto ini merupakan koleksi pribadi
-mdskribo-
Belinyu, 6 februari 2012